29 Desember, 2008

Transparansi

Transparansi. Satu kata ini mudah untuk diucapkan namun sangat sulit untuk diterapkan. Bahkan untuk menuntut ‘keterbukaan’ mahasiswa maupun rakyat tak henti-hentinya bergerak menyuarakannya.

Kalbar sendiri, untuk memenuhi keinginan tuntut tersebut telah memiliki ‘Perda Transparansi’ beberapa tahun lalu. Sejauhmana efektivitas produk hukum yang dilahirkan pihak legislatif dan eksekutif tersebut terhadap keterbukaan untuk mendapatkan informasi di kalangan birokasi? Semua kembali kepada ‘pemilik’ informasi, sebesar apa ruang yang akan diberikan untuk mengakses.

Harapan segar disampaikan Walikota Pontianak, H Sutarmidji. Di masa kepemimpinannya ke depan, sosok low profile ini akan se-transparan-mungkin.

Kepada masyarakat yang membutuhkan informasi apa saja yang akan dan diperbuat jajaran pemerintahannnya di segala bidang, akan diberikan kesempatan untuk mengaksesnya. ‘Prinsip transparansi’ menjadi komitmen pemimpin pilihan rakyat kota ini.

Bahkan mantan dosen Fakultas Hukum Untan ini berjanji setiap tiga bulan sekali mengumumkan di media cetak, pekerjaan apa saja yang dikerjakan Pemkot. Ini dilakukan dengan harapan masyarakat mudah mengawasinya dan mencegah penyimpangan.

Janji Walikota ini patut didukung. Bila akses sudah dibuka, masyarakat harus bisa memanfaatkannya sehingga fungsi kontrol dapat dilakukan bersama-sama.

Janji Sutarmidji tersebut sejalan dengan semangat UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Setiap masyarakat punya hak bertanya, baik kepada eksekutif, legislatif dan yudikatif, maupun lembaga lain termasuk Partai Politik dan LSM yang memperoleh dana atau mendapatkan bantuan dana dari APBN/APBD.

UU ini mewajibkan setiap badan/lembaga publik wajib memberikan keterangan secara jelas dan terbuka kepada elemen masyarakat yang menanyakan tentang segala bentuk kegiatan yang dilakukan, termasuk penggunaan dana kegiatan sesuai anggaran

Bila tidak, pejabat terkait di lembaga publik tersebut bisa dikenakan sanksi hukuman kurungan penjara maupun denda, sebagaimana diatur dalam pasal 51 dan 52 UU ini.

Tetapi, tidak semua informasi mengenai pemerintahan dapat disampaikan kepada publik, seperti informasi yang dapat membahayakan ketahanan negara, ketahanan ekonomi negara, serta operasi-operasi intelijen.

Keinginan untuk transparan yang dilontarkan Walikota tersebut juga telah dipersiapkan DPRD Kota Pontianak produk hukumnya. Para wakil rakyat tersebut telah selesai membahas dengan melahirkan rancangan peraturan daerah sebanyak 12 bab dan 36 pasal ini.

Di dalam dasar hukum tersebut diatur kewajiban pemerintah menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Ada kewajiban Pemerintah Kota Pontianak menyebarluaskan informasi, prosedur dan proses penyusunan, perumusan dan penetapan kebijakan melalui media cetak, media elektronik dan media lainnya, secara aktif, pasif maupun segera. Informasi tersebut wajib diumumkan intensif kepada masyarakat, tanpa penundaan.

Produk informasi yang dapat diakses diantaranya meliputi, hasil keputusan pemerintah daerah, seluruh kebijakan yang ada, berikut dokumen pendukungnya, rencana kerja proyek, termasuk perkiraan pengeluaran tahunan badan publik serta perjanjian Pemda dengan pihak ketiga.

Transparansi ini juga ditegaskan Staf Ahli Menkominfo, Henry Subiakto. Pejabat negara harus transparan dalam memberikan berbagai informasi dan tidak ada yang ditutup-tutupi lagi, sehingga masyarakat bisa mengetahui hasil kerja yang telah diperbuat oleh seorang pemimpin maupun lembaga pemerintah.

Mari kita tunggu perwujudkan transpransi tersebut mengingat Undang-undang telah mengatur hingga sangsinya. Semoga.
»»  READMORE...

10 Desember, 2008

Preman dan Proyek ‘Berlubang’


Sepak terjang premanisme di proyek dan proyek ‘preman’ bukan lagi kisah baru. Ini ‘lagu’ yang terus dinyanyikan. Memang terkadang terdengar menakutkan, namun ada juga yang bertekuk lutut menyembahnya dan ada pula yang menjadikannya mata pencaharian, bila berhasil kerja sehari bisa buat makan berbulan-bulan.
Sampai sekarang, definisi preman pun sulit dijabarkan. Maklum saja, orang-orangnya pandai ‘membungkus’ diri dengan tindak tanduk halus penuh sopan santun namun menusuk sampai melilit. Bila ‘orangnya’ krasak-krusuk dan main pukul, bisa langsung ditangkap, tetapi preman yang sesungguhnya di balik layar tentulah sulit, tak seperti membalikkan telapak tangan.
Untuk mengatasi preman, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalbar, Yuslinda memiliki jurus ‘hukum’. Keputusan Presiden (KEPRES) Nomor : 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan barang dan Jasa di Lingkungan Pemerintahan yang mengatur seluruh pengadaan barang dan jasa berlangsung adil, transparan dan akuntabel, serta digunakannya media internet dan media cetak sebagai instrument transparansi diyakini dengan perlahan akan menggeser ‘preman’ proyek dan menghilangkan proyek berlubang.
Yuslinda dengan tegas mengatakan preman proyek tidak perlu ditindak karena akan tergeser sendiri. “Pihak Dinas PU juga tidak berani main-main karena sudah ada Keppres yang mengatur mekanisme tender, jadi setiap calon kontraktor yang mengikuti pelelangan tender proyek, harus memenuhi kualifikasi, yang tidak memenuhi kualifikasi tidak bisa ikut,” tegasnya
Tentu semangat dan kemauan untuk menghilangkan preman-preman proyek tersebut harus didukung. Ibarat ungkapan, menyapu yang kotor harus dengan sapu yang bersih. Tentu untuk menghilangkan preman proyek, ‘di dalam tubuh instansi yang banyak berkaitan dengan proyek fisik ini juga harus bersih. Kikis habis lobi-lobi dan ‘transaksi nakal’ serta hapus kebiasan meminta ‘jatah’.
Tentu bila hal-hal tersebut bisa terwujud, maka cepatnya kerusakan hasil pekerjaan proyek fisik bisa ditekan karena anggaran bisa full untuk membangun. Dampak lainnya pemerintah bisa mengurangi anggaran pemeliharaan sehingga dana bisa dialokasikan untuk pembangunan lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat. Dirgahayu Hari Bakti Pekerjaan Umum ke-63, bersama kita kikis ‘Preman Proyek dan Proyek Berlubang’. Semoga.
»»  READMORE...

06 Desember, 2008

Inilah Cinta


Kamis (27/11) kemarin merupakan hari yang sangat mencemaskan. Istriku, harus menjalani operasi kanker. Penyakit yang menakutkan tersebut telah bersarang setahun di tubuhnya. Kami baru mengetahuinya enam bulan lalu.
Semuanya sudah kami persiapkan. Walaupun dirinya harus kehilangan salah satu anggota tubuh, istriku berusaha tabah dan sabar namun kegetiran masih terlihat di kedua bola mata indahnya, ini yang membuat aku 10 tahun lalu jatuh cinta padanya. Ketabahan istriku membuat aku bertekad untuk memberikan yang terbaik baginya.
Sejak menerima resep dokter, Kamis (26/11), aku bergeriliya memenuhinya. Sekantong darah 300 cc golongan A pun telah dipastikan ada di PMI Kota Pontianak. Temanku di PMI, Muafi sangat membantu. Tinggal tiga jenis benang untuk operasi.
Apotik dalam di RSUD Soedarso menyatakan tiga benang ini tidak ditanggung Askes. Aku Mafhum. Aku pun telah menyiapkan biaya untuk itu. Resep kemudian kubawa ke Apotek Sahabat. Seorang wanita menerima dan melihatnya, seketika langsung menyatakan tidak ada. Pikirku mungkin stok mereka habis.
Tidak menunggu waktu, aku ke Apotik Arwana di seberang parit. Di dalam hati, semua harus siap sebelum operasi dimulai. Dr Yusuf Heriayadi memastikan operasi dilakukan pagi hari mengingatkan akan memakan waktu selama tiga jam.
Apotik sepi, setelah aku datang baru ada 1-2 pembeli obat datang. Seorang pria menerima resep dr Yusuf tersebut. Ia lantas mengatakan ada, tetapi baru pukul 07.30 besok bisa diambil. Aku resah, lantas menanyakan alasannya kenapa. “Barangnya ada bang, cuma kunci dibawa, besok setengah delapan saja diambil?” jelasnya. Aku tersentak, kok dikunci?
“Bagaimana kalau orang mendadak memerlukan benang? Tanya ku mulai kesal. Petugas apotek itu diam. Lantas aku minta dihitungkan, berapa biayanya? “Sekitar lima jutaan bang,” jawabnya singkat. Aku lantas minta memastikan bahwa pagi barang tersebut sudah tersedia.
Tidak puas, aku kembali ke RSUD dr Soedarso. Di dekat ruangan IGD ada apotek Arwana juga. Aku lantas bertanya dengan petugas di sana. “Kira-kira barang ini ada ndak? Tanya Ku menekan emosi yang terbawa dari Apotek Arwana di seberang parit.
“Ini ada bang, tapi besok,” jawabnya sopan. “Coba itungkan ye, berapa harganya? Mintaku lagi. “Sekitar tiga juta dua ratusan bang? Jawabnya. Makasih, jawabku kembali.
Di dalam benak ku kok bisa satu apotek bisa beda harga dan selisihnya jauh sekali. Ya sudahlah, berapapun aku akan bayar.

Keesokan harinya
Sekitar pukul 06.30 aku sudah ada di PMI Kota Pontianak Jalan A Yani. Kepada petugas aku menyampaikan akan mengambil darah. Petugas pun dengan ramah melayani dan tak menunggu lama darah dalam kantong tersebut diserahkan dan aku membayar Rp130.000.
Tak membuang waktu, aku tancap gas ke Apotek Arwana. Dalam perjalanan, istriku yang sendirian di rumah sakit menelepon,. “Mas dokter Yusuf sudah datang. Dokter bilang operasinya pagi ini langsung. Dokter nanyakan darah dan benang,” ucap istri dengan suara getir.
Usai menjawab, aku tancap gas. Di dalam perjalanan istriku kembali menelepon. “Mas, ibu sudah dibawa ke ruang operasi,” ucapnya. Mendengar ucapan istriku, aku semakin resah. Jalan A Yani yang padat tak kuhiraukan. Salip sana, salip sini dan kemudian sampai di Apotek Arwana.
HP ku kembali berdering. “Hairul, operasi pagi ini, kalau sudah ada benang dan darah antar langsung ke ruang operasi,” terdengar suara dr Yusuf. “Iya dokter saya di Arwana ambil benang,” jawabku. “Oke, istrimu sudah di ruangan semua proses lancar,” ucap dr Yusuf. “Terimakasih dokter,” jawabku dengan resah.
Resep benang tadi kuberikan kepada penjaga apotek. Sampai pukul 07.30 belum juga petugas itu keluar. Aku mulai dirudung stres. Tak tahan, aku lantas ke WC dan buang air kecil.
Tak lama kemudian dr Yusuf kembali menelepon. “Rul kami langsung operasi, gunakan alat-alat yang ada di ruang operasi dulu ya,” ucap dr Yusuf. “Silahkan dokter, beri yang terbaik buat istri saya,” jawabku semakin resah.
Pukul 07.40, petugas Apotek turun dan menyerahkan tiga jenis benang kepada petugas apotek yang wanita. “Ini pak, benangnya. Harganya tiga juta dua ratusan,” ucapnya. Aku langsung merogoh tas dan membayar. Aku sangat kesal, karena istriku menuju ke ruangan operasi tanpa aku dampingi. Emosiku memuncak, amarahku kepada petugas apotek yang bertugas sehari sebelumnya harus aku pendam. “Inilah cinta. Semakin diuji, semakin indah. Sabar dan tabah yang dek menghadapi cobaan ini. Semoga operasi lancar dan selamat,”. Tulisan tersebut merupakan SMS dari Pemimpin Redaksi saya, Nur Iskandar. Pemimpin yang arif ini, sangat-sangat membantu saya dalam menghadapi cobaan ini. Seketika emosi yang memuncak tersebut sirna dan membuat saya pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT yang menguasai jagad raya ini. Terimakasih teman.
»»  READMORE...