24 Juni, 2007

Kisah Jago Fisika yang Dapat Beasiswa di Singapura


Hairul Mikrad
Borneo Tribune, Pontianak.

Memang benar pernyataan Kepala SMAN 1 Kota Pontianak, Drs. H. Fadhil Hazimat bahwa banyak anak Kalbar yang ‘pintar’. Salah satunya, Fidelis Adhika Pradipta. Alumnus SMA Gembala Baik tamatan 2005 ini ternyata jago Fisika.
Di penghujung kelas satu SMA, Dhika-panggilan kecil pemuda berkacamata ini-sudah mengikuti olimpiade nasional dan internasional. Dirinya lolos mewakili Kota Pontianak dan selanjutnya mewakili Kalbar di olimpiade tingkat nasional.
Di ajang nasional yang mempertemukan jago-jago Fisika se Indonesia itu, Dhika berhasil menyabet medali perak dan dirinya ditetapkan mewakili Indonesia ke olimpiade Fisika se-Asia dan Australia di Vietnam, Mei 2004.
Baru masuk kelas 2, Dhika sudah harus meninggalkan kedua orangtuanya, Irawan dan Siska serta adik satu-satunya, Stefani Citta Paramita untuk berangkat ke Jakarta mengikuti training.
“Saya setahun tidak belajar normal seperti teman-teman di sekolah. Setiap hari saya belajar Fisika saja untuk persiapan menghadapi olimpiade di Vietnam. Kami di Jakarta disediakan tempat tinggal, masuk training jam delapan pagi dan pulang jam lima,” cerita Dhika mengenang masa-masa training.
Untuk mewakili Indonesia, Dhika sebelumnya harus bersaing ketat dengan 36 pelajar pintar se-Indonesia. “Bulan pertama ada 36 orang, lantas kami setiap minggu tes dan kemudian lolos hanya delapan pelajar termasuk saya. Delapan orang ini yang dipertahankan dan ditraining,” ungkapnya.
Bagaimana belajar di masa training? Menurut Dhika, mereka hanya diberikan buku-buku serta setumpuk soal-soal Fisika setiap harinya. “Kami mempelajari buku-buku dan mengerjakan soal-soal. Tutor hanya datang satu jam menanyakan apakah ada permasalahan dan kemudian dibahas, selanjutnya pergi. Bila soal tidak selesai, kami kemudian melanjutkannya di rumah. Setiap hari seperti itu selama setahun,” kenang putra pertama Irawan-Siska ini.
Dhika tidak tahu pasti rangking yang didapatnya saat olimpiade Fisika Asia-Australia di Vietnam. “Saingannya kuat-kuat, setiap negara mengirim5-8 pelajar. Saya sangat senang sekali bisa ikut olimpiade dan sama sekali tidak menyangka. Saya bisa bertemu dengan orang banyak dari banyak negara, ikut lomba sekaliber ini rasanya luar biasa, apalagi dapat medali perak,” aku Dhika dengan tersipu-sipu saat ditanya mengenai perasaannya mengikuti lomba.
Walaupun Dhika bisa memperpanjang masa training untuk ikut olimpiade tahun berikutnya, Dhika memilih untuk berhenti. “Anak saya berpikir hidup tidak hanya Fisika dan dia tidak bisa lama-lama berpisah dengan keluar. Waktu kelas dua, pulang sebentar persiapan lalu ulangan umum,” sela Siska, ibu kandung Dhika.

Bea Siswa Semb Corp
Lepas mengikuti olimpiade Dhika kebanjiran tawaran masuk ke perguruan tinggi bonafide. Salah satunya dari Singapura.
Dhika pun mempersiapkan diri untuk kuliah. Universitas yang dipilihnya Mechanical Engineering dengan streaming Mechatronics di Nan Yang Technological University Singapore. Ini adalah kampus bonafide di negeri tetangga Indonesia namun sejajar dengan negara-negara maju di Eropa atau Amerika itu.
Di Singapura dengan beasiswa Semb Corp segala biaya Dhika ditanggung. Tidak hanya biaya akademis, tapi juga kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dan begitulah enaknya jadi anak yang punya prestasi tinggi. Nilai belajarnya dihargai negeri manca.
Semb Corp adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perminyakan dan pengolahan limbah. Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, Dhika mendaftar dan ikut test di Jakarta. Pria berambut pendek lurus ini sebelumnya memasukkan karya tulis dan mengikuti test interview sehingga dinyatakan layak mendapatkan beasiswa tersebut. Akan tetapi predikat juara Fisika turut mengatrol keberhasilannya. □
»»  READMORE...

Peraih Nilai Matematika 10 Ingin Jadi Programmer IT


Hairul Mikrad
Borneo Tribune, Pontianak

Sejak masuk SMA, Charles Darwis Hariman sudah menyukai mata pelajaran matematika. Kegemaran mempelajari pelajaran yang menjadi momok hampir sebagian pelajar membuat Alumnus SMAN 3 Pontianak ini pada ujian nasional kemarin meraih nilai 10.
Darwis-sapaan akrab remaja yang lahir di Kota Pontianak 3 November 1989 ini juga menyabet nilai 9,2 mata pelajaran Bahasa Inggris dan nilai 9 untuk Bahasa Indonesia. Sebuah hasil yang menakjubkan untuk ukuran siswa rata-rata.
Didampingi kedua orangtuanya, Lasimin Hariman dan Heng Lie Tjhin, kembaran Charles Darwin Hariman ini tidak sungkan-sungkan berbicara ketika saya menemuinya di toko sepatu ‘Fantasi’ Jalan Diponegoro milik ayahnya.
“Ketika SD dan SMP saya tidak terlalu menyenangi matematika tetapi setelah masuk kelas 1 SMA jadi sangat tertarik. Saya awalnya tertarik dengan komputer, karena berkaitan dengan matematika. Jadi saya juga suka mata pelajaran itu. Saya mulai suka menyelesaikan soal-soal sulit saat di kelas satu.”
Ketertarikan pada pelajaran matematika semakin membara ketika diri Darwis selama di SMA mendapatkan guru-guru yang bisa memotivasi semangatnya untuk terus belajar. “Peran guru sangat besar terhadap saya untuk menyukai matematika. Di kelas satu saya diajar Pak Marlan, kelas dua Bu Krisnawati dan kelas 3 Pak Janiwar Apriadi. Guru-guru ini membuat suasana belajar menjadi asik,” aku Darwis yang mendapatkan bea siswa sejak semester kedua hingga menamatkan SMA.
Kakak kandung Silvana Hariman ini mengaku mendapatkan nilai 10 pada mata pelajaran matematika berkat dedikasi guru-gurunya tersebut. “Bantuan guru ini sangat dominan. Menjelang UAS/UAN kami lebih intensif lagi diberikan latihan-latihan soal, simulasi dan setiap minggu diberi test berbeda. Dari yang tidak mengerti lalu bisa mengerjakan,” aku pelajar peraih peringkat terbaik kelas 1 dan peraih terbaik IPA pertama kelas 2 ini.
Lantas bagaimana cara belajarnya hingga dapat nilai 10? Darwis tersenyum. “Cara belajar saya tidak spesial dan tidak terlalu sering. Intinya fokus belajar, waktu belajar singkat tapi berguna. Biasanya saya belajar menjelang Magrib. Kalau sudah dipelajari di sekolah dibaca dan terus belajar apa yang belum didapat,” jelas Darwis yang memilih dan mendapat tiket masuk Universitas Tanjungpura program studi Teknik Informatika melalui non test.
Darwis memuji gurunya di SMUN 3 sudah bekerja sangat maksimal. “Kita (siswa-siswi, red) diberi kemudahan dalam belajar. Kami diberikan soal-soal dari SMA Magelang dan SMA di Jawa. Dari sekolah sudah memudahkan memberikan soal dan try out gratis,” ucapnya.
Remaja yang berkeinginan menjadi programmer teknologi informasi ini juga menyampaikan terimakasih kepada Kepala SMAN 3 Pontianak, dewan guru, pegawai dan rekan-rekan belajarnya. “Ini semua berkat guru-guru di sekolah dan doa,” ucapnya tulus.
Sementara itu, Lasimin Hariman orangtua Charles Darwis Hariman mengaku dirinya tidak terlalu memperhatikan belajar anaknya. “Kalau kita perhatikan benar nanti malah jadi malas. Kakeknya dulu sekolah di jaman Jepang, semua nilai di ijazahnya 10, jadi saya tak heran kalau anak saya juga dapat 10. Saya dari pagi sampai sore di warung. Dia (Darwis) belajar sendiri dan kita tetap mendukung serta memfasilitasinya,” ucapnya.

Telur Ayam Kampung
Diakui Hariman, anaknya Darwis, Darwin dan Silvana tidak perlu diawasi serius dalam hal belajar. “Sejak kecil Darwis dan Darwin sudah kelihatan pintar. Waktu berumur 2 ,5 bulan saya sudah berikan kuning telur ayam kampung sampai tamat SMP karena menurut apa yang saya baca, anak sejak lahir hingga usia 15 tahun membutuhkan gizi atas pertumbuhan dan perkembangan otak. Pengalaman ini saya dapat waktu sekolah di Malang SMA ST Yusuf, saran seorang pastor bahwa setiap hari dia makan 8 kuning telur ayam kampung. SMA ST Yusuf itu menghasilkan ahli atom pertama di Indonesia,” papar Hariman berbagi resep. □
»»  READMORE...

Matematika itu Seni


Hairul Mikrad
Borneo Tribune, Pontianak

Peran sekolah dan guru mata pelajaran dalam mempersiapkan siswa-siswinya menghadapi ujian akhir ternyata sangat berarti. Bukan itu saja memberikan pengajaran di kelas jelas sangat berpengaruh bagi anak-anak didiknya. Bagaimana pendapat dan resep yang dipersiapkan para guru?

Tan Siak Tjung atau Heryanto Tan, S.Pd terlihat sibuk pagi, Jumat (22/6) kemarin. Namun guru mata pelajaran matematika di SMA Gembala Baik ini masih menyempatkan diri menerima saya untuk wawancara di ruang guru.
Hari itu, alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun 1994 ini menggenakan kemaja pendek kotak-kotak bercelana hitam. Dirinya tenang dan santun setiap kali memberikan jawaban dan menyampaikan pendapatnya.
Suami Sinju Utari ini mengaku mengajar matematika merupakan sebuah seni. Seni bagaimana membawa sesuatu yang sulit tetapi dalam bahasa mudah dimengerti orang.
Untuk itu, menurut bapak Indira Mettaputri ini, guru harus memiliki penguasaan materi yang baik dan bisa menyampaikan dalam ‘bahasa’ yang mudah dimengerti para siswanya.
Menurut Pak Tan-panggilan akrab siswa Gembala Baik kepada dirinya-matematika harus dikuasai sejak kelas 10 dan guru yang mengajar harus menguasai materi serta tidak boleh parsial harus total.
Matematika itu kata Pak Tan perlu dimengerti dan dipahami. “Bagaimana memahami dan mengerti rumus-rumus serta memperolehnya. Kemudian anak-anak tidak boleh lupa pelajaran matematika di SD dan SMP seperti berhitung. Saya melihat memang kesulitan matematika karena dasarnya tidak kuat,” jelas anak ke sembilan dari 11 bersaudara ini.
Selain itu juga, pemerintah maupun lembaga pendidikan, menurut Pak Tan harus meningkatkan sumberdaya guru terlebih dulu karena bila guru tidak menguasai dengan baik maka penyampaiannya akan ragu. “Kalau ragu maka sulit untuk diterima siswa, guru juga harus kreatif mencari cara mudah dalam menyampaikan matematika kepada siswa,” sarannya.
Peran orangtua dalam meningkatkan pengetahuan anak-anaknya, menurut guru yang sudah mengajar matematika sejak tamat kuliah ini, sangat besar dan penting. “Keseriusan orangtua terutama dalam mengawasi anak-anaknya juga penting. Anak-anak di Gembala Baik ini bisa berhasil juga karena peran besar dari orangtua,” katanya berbagi.
Selain itu juga, siswa-siswa sendiri harus mendisplinkan dirinya. “Untuk keberhasilan anak didik, para siswa harus mendisplinkan dirinya sejak kelas 1 atau sekarang kelas 10. Para siswa ini kita siapkan dengan soal-soal berorientasi ujian nasional. Itu membuat kita lebih fokus selain ujian harian,” papar Pak Tan.
Sambil membetulkan letak duduknya, Pak Tan membagi resep menghadapi ujian nasional. “Soal-soal ujian dari beberapa tahun lalu menjadi referensi kita dan siswa. Saya sampaikan ke siswa bahwa soal-soal ini biasanya keluar di ujian nasional, kalau berubah tidak jauh-jauh dari soal-soal yang pernah keluar. Untuk itu kami harus mempersiapkan soal-soal itu dan kami (Gembala Baik,ed) punya bank soal dari yahun 1990,” ucap guru kelahiran Pontianak 17 Juni 1971 lalu.
Bagi para siswa, ungkap Pak Tan diwajibkan mempunyai kumpulan soal-soal. “Kemarin kita minta mereka mengumpulkan soal-soal hingga tujuh tahun terakhir dan ini merupakan kemampuan minimal yang harus mereka miliki. Untuk anak-anak yang kita pandang mampu kita beri pengayaan tujuannya untuk tes masuk perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri,” urainya.Selain itu, aku Pak Tan, soal-soal tadi dibahas bersama dengan para siswa. “Empat bulan di sekolah mengadakan bimbingan belajar, soal-soal kita review dan dibahas dari materi kelas 10 sampai 12. Seluruh materi matematika diingatkan dan tentu penekanannya pada SKL (standar kelulusan) sehingga mereka mudah mengerjakannya,” ucapnya.□
»»  READMORE...