05 Januari, 2009

Muda Mahendrawan, Menanam dan Berbuah

Muda Mahendrawan. Nama ini semakin populer sejak pra dan awal proses pemekaran Kabupaten Pontianak yang kedua dan pembentukan Kabupaten Kubu Raya.
Putra almarhum Mantan Rektor Universitas Tanjungpura, Prof Mahmud Akil, SH ini, sosoknya sudah begitu lekat dengan masyarakat pesisir selatan Kabupaten Pontianak mengingat profesinya sebagai notaris dan pejabat pembuat akta tanah (PPAT).
Luasnya wilayah Kabupaten Pontianak dengan rentang pelayanan publik yang cukup jauh serta belum meratanya pembangunan menjadi perhatian serius pria yang lahir 17 Agustus 1970 ini.
Suami dari Rosalina dan ayah dari tiga orang anak, Mahesa Maura, Mahesa Mauri dan Muda Maestro Junior ini tak lupa menyampaikan konsep, ide-ide serta gagasan sekaligus membangun gerakan pemekaran Kabupaten Pontianak ditengah kesibukan sebagai notaris. Tulisannya kerap muncul dan bisa kita baca di media-lokal sebagai Ketua Lembaga Studi Pengembangan dan Pemberdayaan Wilayah Kalbar, kala itu.
Muda memiliki kegelisahan terhadap nasib dan kondisi ketidakadilan yang melilit di tengah masyarakat. Bahkan rasa kepedulian dan keterpanggilan itu, ia buktikan dengan bertanggungjawab pada ide dan gagasan yang dilontarkannya. Aktor penting yang menjadi inspirator dan konseptor utama di belakang pemekaran Kabupaten Pontianak dan Pembentukan Kabupaten Kubu Raya ini juga telah dikenal oleh banyak kalangan aktivis, khususnya kaum muda.
Sebagai konseptor dan inspirator utama gerakan yang ia rintis bersama kolega-koleganya di akar rumput yang tergabung dalam forum kepala desa wilayah selatan kini telah membuahkan hasil yang tidak kecil artinya. Amanah dari aspirasi Pemekaran Kabupaten Pontianak dan pembentukan Kabupaten Kubu Raya telah terwujud. 17 Juli 2007 DPR RI telah mengesahkan pembentukan Kabupaten Kubu Raya yang kini dipimpin Penjabat Bupati, Drs Kamaruzzaman, MM.
Proses lahir dan tumbuhnya Kabupaten Kubu Raya terus berjalan. 15 Desember 2008 kemarin, telah berlangsung pemungutan suara putaran kedua dan KPU telah menetapkan sosok penggagas kabupaten termuda di Kalbar ini sebagai pemenangnya.
Kemenangan Muda merupakan ‘buah’ dari hasil ‘benih’ yang ditanam serta ‘dipupuk’nya. Kemenangan itu bukan begitu saja datang menghampirinya, Muda bukan sosok yang ‘tinggal panen’ tanpa mau berjuang. Hal ini membuat ‘branding’ Muda terus berkobar, terus dekat dan lekat di hati masyarakat bahwa ‘Muda Sang Penggagas Kubu Raya’.
Pemahaman yang tumbuh di masyarakat tersebut setidaknya banyak membantu memuluskan figure yang terkenal luwes untuk menjadi orang nomor satu di kabupaten ke empat belas ini. Ditambah lagi Muda sebagai person yang telah membuka pemikiran dan kesadaran para kepala desa maupun tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai elemen di wilayah selatan Kabupaten Pontianak (101 desa dari 9 kecamatan) untuk bersatu berjuang mewujudkan perubahan tatanan kehidupan masyarakat.
Ini juga ditunjang oleh dirinya sebagai notaris yang kesehariannya menjalankan komunikasi yang cukup intens dengan siapapun yang membutuhkan jasanya sesuai profesi yang digelutinya menjadikan sosok kepemimpinannya lebih terbuka dan aspiratif serta akomodatif.
Keterampilan komunikasinya sudah teruji selama hampir 9 tahun berprofesi sebagai Notaris/PPAT, dimana sehari-hari menghadapi berbagai tipe dan karakter orang dengan latar belakang status sosial, pemikiran dan emosi yang berbeda-beda, membuatnya cermat dalam memposisikan diri dan memberikan pengaruh kepada orang.
Profesi yang digelutinya sehari-hari sudah tentu menuntut kepercayaan penuh dari orang-orang yang ia temui dan berkomunikasi dengannya. Karena karakter pekerjaannya sebagai pelayan masyarakat yang harus selalu mampu menjaga amanah dari orang-orang yang memerlukan jasanya.
Karena keterbukaan komunikasinya inilah tidak jarang membuat banyak kalangan dari berbagai level, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan menengah dan atas, dapat merasa terayomi.Dengan kapasitasnya tersebut, ia ingin menanamkan nilai obyektifitas dan independensi (kemandirian) sebagai salah satu nilai utama yang harus dijunjung tinggi.
Tentu kita berharap, setelah dilantik Muda Mahendrawan terus memperjuangkan hajat hidup rakyat banyak secara nyata dan bertanggung jawab. Terus menumbuhkan rasa kepedulian, keikhlasan dan kesungguhannya sebagai wujud berjuang bersama-sama masyarakat demi mencapai keadilan dan kesejahteraan bagi hajat hidup rakyat banyak
»»  READMORE...

29 Desember, 2008

Selamat Memilih

Senin, 15 Desember 2008 merupakan hari penentuan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Kubu Raya siapa yang akan memimpin lima tahun ke depan? Pasangan Muda Mahendrawan-Andreas Muhrotein atau Sujiwo-Raja Sapta Oktohari.
Kedua pasangan kandidat ini lolos sebagai pemenang 1 dan 2 perolehan suara terbanyak pada putaran pertama. Dari delapan pasangan yang bertarung kemarin, Muda-Andreas jauh meninggalkan kandidat lainnya.
Sosok penggagas dan memiliki peranan besar dalam pembentukan Kabupaten Kubu Raya ini meraih 58.477 suara atau 26.06 % dari total 224.401 suara syah. Ini menunjukkan lebih seperempat rakyat di kabupaten ‘termuda’ ini memberikan kepercayaan kepada kedua sosok low profile tersebut.
Sementara pasangan Sujiwo-Okto mendapatkan 44.283 suara atau sekitar 19.73% suara syah. Sujiwo-Okto sendiri dalam putaran kedua mendapatkan dukungan dari kandidat yang ikut bertarung pada putaran pertama, Syarif Abdullah Alkadrie, Rudy Bachtiar dan Suronto.
Lain kandidat, lain pula partai pendukung pada putaran pertama. Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKP Indonesia), Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Pelopor serta partai lainnya pada putaran kedua ini mendukung penuh Muda-Andreas.
Kondisi real politik di Kabupaten yang baru pertama kali memilih Bupati-Wakil Bupati ini memang layak untuk dijadikan pelajaran. Putaran pertama, kandidat yang melalui jalur independent mendapatkan dukungan paling banyak dari rakyat. Dukungan ini semakin nyata bertambah secara politik ketika partai-partai besar dan ‘gurem’ dengan tegas mendukung secara penuh. Lengkap sudah, suara rakyat ditambah dukungan politik yang kuat.
Suhu politik diakui memang terus naik. Isu-isu agama, suku dan golongan terus berhembus. Elemen-elemen masyarakat yang dulunya ketika hendak membentuk Kubu Raya butuh kerja keras mempersatukannya, mulai dibenturkan.
Masyarakat dibuat bingung dengan aneka provokasi dan pernyataan tak bertanggungjawab serta tak mengguntungkan bagi Kubu Raya ke depan. Persatuan yang merupakan modal awal untuk membangun Kubu Raya lebih baik, jelas dipertaruhkan.
Syukurlah, masyarakat Kubu Raya sangat cerdas. Mereka bisa memilah mana yang sekadar isu dan provokasi ataupun kenyataan. Track record, visi misi maupun program kerja kedua pasangan kandidat ini tentu menjadi dasar pertimbangan menentukan pilihan. Kini pilihan tentu akan semakin mantap, hanya ada dua pasangan kandidat. Pilihannya tentu yang paling terbaik dari yang terbaik. Masa depan Kubu Raya ada di tangan Anda semua. Silahkan dan selamat memilih.
»»  READMORE...

Kubu Raya Buat Lima Tahun ke Depan

Bagaimana wajah Kabupaten Kubu Raya lima tahun ke depan? Esok, masyarakat di kabupaten termuda di Provinsi Kalimantan Barat ini akan memberikan ‘warna’.
Mereka akan memilih apakah pasangan nomor 7, Sujiwo-Raja Sapta Oktohari atau pasangan nomor 8, Muda Mahendrawan-Andreas Muhrotein yang akan melanjutkan perjuangan sebelumnya.
354.295 warga yang memiliki hak pilih di putaran kedua ini akan memberikan suara mereka di TPS-TPS yang tersebar di 978 titik. Siapapun yang terpilih, tentulah kandidat yang terbaik bagi dan pilihan masyarakat.
Kedua pasangan kandidat terbaik yang lolos pada putaran pertama sebagai peraih suara terbanyak ini tentu bersama timnya telah bekerja keras mengkampanye, mensosialisasikan maupun mendekati masyarakat, bahwa merekalah yang layak memimpin kabupaten dengan 9 kecamatan tersebut.
Masyarakat cerdas juga tidak akan salah pilih. Visi misi, program kerja, latar belakang, track record, pendidikan, hubungan sosial, keluarga, istri, kedekatan, sumbangsih kepada kabupaten ini dan banyak hal lainnya yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan.
Siapa yang mereka yang dipilih, esoklah hari penentuannya. Bagi kandidat, kalah atau menang harus siap. Mereka harus siap menerima kenyataan. Terpenting, kondisi Kubu Raya yang kondusif di atas segala-galanya.
Kondisi Kubu Raya sekarang ini jelas tidak terlepas dari sejarah pembentukannya. Perjuangan berat untuk mewujudkannya dimulai dengan mempersatukan elemen-elemen masyarakat agar satu tujuan sehingga tidak muncul pro dan kontra.
Sebelumnya, banyak sekali elemen-elemen masyarakat yang ‘memproklamirkan’ pembentukan kabupaten ini dengan aneka ragam nama. Perjuangan yang terpisah-pisah tersebut berujung kandas namun meninggalkan gaung serta semangat untuk sebuah kabupaten baru.
Semangat ini terus bergerak dan menjadi energi positif. Tentulah kerja-kerja ini membutuhkan sosok konseptor dan pemersatu elemen-elemen tadi. Cikal bakal yang kuat terwujud melalui Forum Desa yang merupakan wadah bagi para kepala desa dari sembilan kecamatan.
Saya juga mengikuti proses ini. Mulai dari memperjuangkan rekomendasi, ekspose di DPR dan DPD RI serta Depdagri hingga pengesahan RUU menjadi Undang-undang. Banyak sekali dinamika dan itu sangat mengesankan. Benih-benih perpecahan juga mulai tumbuh. Hal tersebut biasa di suasana dimana kita masih perlu banyak belajar.
Proses-proses ini juga tentu diikuti masyarakat ramai. Masyarakat pun paham mengenai sejarah pembentukan dan siapa-siapa saja yang berjasa. Tak perlu sibuk memutarbalikkan fakta sejarah.
Terpenting bagaimana membuat ke depan sejarah Kubu Raya menjadi kabupaten termaju di Kalimantan Barat dengan angka pengangguran, kemiskinan serta buta aksara terendah se Indonesia. Tentu semua ini tergantung pada pilihan warga esok hari, warna apa yang akan diberikan di kabupaten yang baru ‘lahir’ ini. Sekali lagi, selamat memilih.
»»  READMORE...