06 Desember, 2008

Inilah Cinta


Kamis (27/11) kemarin merupakan hari yang sangat mencemaskan. Istriku, harus menjalani operasi kanker. Penyakit yang menakutkan tersebut telah bersarang setahun di tubuhnya. Kami baru mengetahuinya enam bulan lalu.
Semuanya sudah kami persiapkan. Walaupun dirinya harus kehilangan salah satu anggota tubuh, istriku berusaha tabah dan sabar namun kegetiran masih terlihat di kedua bola mata indahnya, ini yang membuat aku 10 tahun lalu jatuh cinta padanya. Ketabahan istriku membuat aku bertekad untuk memberikan yang terbaik baginya.
Sejak menerima resep dokter, Kamis (26/11), aku bergeriliya memenuhinya. Sekantong darah 300 cc golongan A pun telah dipastikan ada di PMI Kota Pontianak. Temanku di PMI, Muafi sangat membantu. Tinggal tiga jenis benang untuk operasi.
Apotik dalam di RSUD Soedarso menyatakan tiga benang ini tidak ditanggung Askes. Aku Mafhum. Aku pun telah menyiapkan biaya untuk itu. Resep kemudian kubawa ke Apotek Sahabat. Seorang wanita menerima dan melihatnya, seketika langsung menyatakan tidak ada. Pikirku mungkin stok mereka habis.
Tidak menunggu waktu, aku ke Apotik Arwana di seberang parit. Di dalam hati, semua harus siap sebelum operasi dimulai. Dr Yusuf Heriayadi memastikan operasi dilakukan pagi hari mengingatkan akan memakan waktu selama tiga jam.
Apotik sepi, setelah aku datang baru ada 1-2 pembeli obat datang. Seorang pria menerima resep dr Yusuf tersebut. Ia lantas mengatakan ada, tetapi baru pukul 07.30 besok bisa diambil. Aku resah, lantas menanyakan alasannya kenapa. “Barangnya ada bang, cuma kunci dibawa, besok setengah delapan saja diambil?” jelasnya. Aku tersentak, kok dikunci?
“Bagaimana kalau orang mendadak memerlukan benang? Tanya ku mulai kesal. Petugas apotek itu diam. Lantas aku minta dihitungkan, berapa biayanya? “Sekitar lima jutaan bang,” jawabnya singkat. Aku lantas minta memastikan bahwa pagi barang tersebut sudah tersedia.
Tidak puas, aku kembali ke RSUD dr Soedarso. Di dekat ruangan IGD ada apotek Arwana juga. Aku lantas bertanya dengan petugas di sana. “Kira-kira barang ini ada ndak? Tanya Ku menekan emosi yang terbawa dari Apotek Arwana di seberang parit.
“Ini ada bang, tapi besok,” jawabnya sopan. “Coba itungkan ye, berapa harganya? Mintaku lagi. “Sekitar tiga juta dua ratusan bang? Jawabnya. Makasih, jawabku kembali.
Di dalam benak ku kok bisa satu apotek bisa beda harga dan selisihnya jauh sekali. Ya sudahlah, berapapun aku akan bayar.

Keesokan harinya
Sekitar pukul 06.30 aku sudah ada di PMI Kota Pontianak Jalan A Yani. Kepada petugas aku menyampaikan akan mengambil darah. Petugas pun dengan ramah melayani dan tak menunggu lama darah dalam kantong tersebut diserahkan dan aku membayar Rp130.000.
Tak membuang waktu, aku tancap gas ke Apotek Arwana. Dalam perjalanan, istriku yang sendirian di rumah sakit menelepon,. “Mas dokter Yusuf sudah datang. Dokter bilang operasinya pagi ini langsung. Dokter nanyakan darah dan benang,” ucap istri dengan suara getir.
Usai menjawab, aku tancap gas. Di dalam perjalanan istriku kembali menelepon. “Mas, ibu sudah dibawa ke ruang operasi,” ucapnya. Mendengar ucapan istriku, aku semakin resah. Jalan A Yani yang padat tak kuhiraukan. Salip sana, salip sini dan kemudian sampai di Apotek Arwana.
HP ku kembali berdering. “Hairul, operasi pagi ini, kalau sudah ada benang dan darah antar langsung ke ruang operasi,” terdengar suara dr Yusuf. “Iya dokter saya di Arwana ambil benang,” jawabku. “Oke, istrimu sudah di ruangan semua proses lancar,” ucap dr Yusuf. “Terimakasih dokter,” jawabku dengan resah.
Resep benang tadi kuberikan kepada penjaga apotek. Sampai pukul 07.30 belum juga petugas itu keluar. Aku mulai dirudung stres. Tak tahan, aku lantas ke WC dan buang air kecil.
Tak lama kemudian dr Yusuf kembali menelepon. “Rul kami langsung operasi, gunakan alat-alat yang ada di ruang operasi dulu ya,” ucap dr Yusuf. “Silahkan dokter, beri yang terbaik buat istri saya,” jawabku semakin resah.
Pukul 07.40, petugas Apotek turun dan menyerahkan tiga jenis benang kepada petugas apotek yang wanita. “Ini pak, benangnya. Harganya tiga juta dua ratusan,” ucapnya. Aku langsung merogoh tas dan membayar. Aku sangat kesal, karena istriku menuju ke ruangan operasi tanpa aku dampingi. Emosiku memuncak, amarahku kepada petugas apotek yang bertugas sehari sebelumnya harus aku pendam. “Inilah cinta. Semakin diuji, semakin indah. Sabar dan tabah yang dek menghadapi cobaan ini. Semoga operasi lancar dan selamat,”. Tulisan tersebut merupakan SMS dari Pemimpin Redaksi saya, Nur Iskandar. Pemimpin yang arif ini, sangat-sangat membantu saya dalam menghadapi cobaan ini. Seketika emosi yang memuncak tersebut sirna dan membuat saya pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT yang menguasai jagad raya ini. Terimakasih teman.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Bagus bang Dek... Lama kita tak jumpa, moga makin berjaya selalu dan makin sholeh saja menjalani hidup...

(Ttd)
Mahmudi