12 Mei, 2009

SMS Caleg

Semakin dekat hari pelaksanaan pemungutan suara pada pemilu tahun 2009 ternyata buat pusing juga. Pasalnya, dalam sehari saja bisa puluhan short message service (SMS) yang mampir di nomor telpon seluler saya.
SMS dari para caleg ini juga tentu ada yang masuk di HP para pembaca sekalian dengan pesan senada. SMS itu jelas isinya kampanye. Mereka dari berbagai partai. Ada juga satu partai dengan nomor urut berbeda, dapil sama. Para caleg itu meminta dipilih pada 9 April 2009. Bukan itu saja, mereka meminta agar mengajak sanak saudara memilihnya.
Yang membuat pusing, kapasitas inbox saya dengan cepat sekali penuh dan ini membuat sejumlah SMS yang penting pun tertunda masuknya. Kapasitas untuk menyimpan pesan di telpon genggam saya yang merupakan seri terbaru 5 tahun lalu, tidak terlalu besar.
Baru 80-an pesan yang masuk sudah penuh. Ini membuat tangan mendapat pekerjaan tambahan menghapus SMS setiap kali masuk seusai habis dibaca.
Soal pilihan, saya sudah mengantongi satu nama, baik buat DPRD Kubu Raya, DPRD Kalbar, DPR RI maupun DPD RI. Untuk keluarga, mereka juga sudah punya pilihan sendiri-sendiri.
Ya, SMS-SMS itu juga sebagai bentuk usaha. Usaha untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya agar terpilih menjadi anggota legislatif yang terhormat. Terhormat karena jabatan, tinggal bagaimana mempertahankan moral serta sepak terjang, tetap terhormat juga.
Usaha untuk merebut dan memenangkan hati rakyat melalui SMS tentu sah-sah saja sebatas sesuai aturan dan tidak memaksa. Untuk SMS memang memerlukan modal yang cukup besar, tetapi cara ini mungkin jauh lebih efektif. Mengirim SMS tentu jauh lebih baik ketimbang 'serangan fajar' membagi-bagikan uang atau bentuk lainnya ke rumah-rumah, di jalan menuju TPS maupun memanipulasi suara.
Nah, 9 April, tugas kita sebagai warga negara yang memiliki hak pilih, gunakanlah secara bertanggungjawab untuk memilih wakil di lembaga legislatif. Bukan hanya memberikan suara dengan cara mencontreng saja, tetapi juga mengawasi pelaksanaannya. Mengawasi agar tidak terjadi kecurangan, manipulasi maupun money politic.
Tentu, sangat-sangat tidak layak bila caleg-caleg 'busuk' yang mewakili kita di lembaga legislatif. Ayo, mari kita tentukan masa depan daerah dan bangsa ini, dengan memilih caleg-caleg yang kita ketahui memiliki kredibilitas, kapabilitas, kapasitas serta moral yang baik pula. Ingat 9 April jangan lupa memberikan suara, sekaligus mengawasinya. Selamat menentukan pilihan
»»  READMORE...

Panggung Sandiwara

Melabrak prinsip merupakan bagian yang tersulit bagi orang-orang yang memiliki karakter dan jati diri. Namun terkadang kondisi ‘kekinian’ membuat prinsip-prinsip yang sudah tertanam harus dibuat ‘bersahabat’.
Ya, bersahabat dengan peraturan-peraturan, keselamatan, keamanan, desakan kebutuhan hidup dan terkadang pemaksaan halus yang diselubungi dengan kata-kata ‘demi kepentingan’. Kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi, dilayani dan dipuja-puja bahkan harus bertekuk lutut.
Ya, sudahlah. Toh menurut lirik lagu yang didendangkan Ahmad Albar ’dunia ini merupakan panggung sandiwara’. Tempatnya orang-orang untuk berpura-pura dan memainkan perannya untuk meraih tahta, harta dan wanita, walaupun tidak semua orang seperti itu.
Banyak petinggi dan orang-orang yang terhormat di negeri ini menjadi paling rendah dinilainya akibat masuk dalam kubangan lilitan kasus kolusi, korupsi, nepotisme dan perselingkuhan.
Tentu, untuk urusan tahta, harta dan wanita tidak hanya hinggap kepada petinggi-petinggi saja, sekarang ini seorang ‘gembel’ pun bisa memainkan dan ambil peran. Mungkin saja mereka belajar dari kasus-kasus petinggi tersebut. Ya, mulai dari hal-hal kecil seperti ’menjilat’, adu domba, bahkan perlahan-lahan menikam.
Trik-trik ’kacung’ seperti ini sebenarnya mudah sekali kelihatan di permukaan. Ya, tergantung dari kesadaran dan kepekaan kita sendiri. Bila kita termasuk orang-orang yang suka memanfaatkan dan mengambil ataupun mendapatkan keuntungan maka hal-hal ini akan menjadi bagian ’permainan’ yang akan dijalankan dan anda tinggal menyiapkan ’kambing hitamnya’
Namun bila kita peka dan tidak ingin ’tertampar’ serta sadar akan berdampak buruk, maka-maka aksi-aksi ’kacung’ seperti itu segera dihentikan. Tindakan tegas harus diberikan, dieksekusi dan tidak boleh digantung.
Semakin lama dibiarkan akan menjadi parasit ataupun lintah yang terus menerus mengisap hingga kering. Bila sudah begitu, anda akan ditinggalkan, good bye.
Ya, semua tergantung pada kita untuk memilih. Salah ’mengoperasi’ akhirnya juga akan menyulitkan diri sendiri. Terpenting mencari kebenaran tidak harus melihat dan mendengarkan dari satu sisi. Semoga kita menjadi arif untuk memilih yang terbaik.
»»  READMORE...

15 April, 2009

Kisah Dua Punai

Syahdan, di negeri para binatang di rimba hutan belantara sedang dilakukan rapat akbar pemilihan pemimpin. Ini dilakukan mengingat sang raja Singa mengundurkan diri karena keropos oleh usia.
Pemilihan berlangsung demokratis. Di wilayah hutan satu ini, tidak mutlak rajanya harus Singa, binatang kecil seperti semutpun bisa menjadi raja. Hasil pemungutan suara yang sudah dilakukan terpilihlah ‘Banteng’ sebagai raja berikutnya.
Banteng ingin dirinya menjadi raja yang disayangi rakyatnya. Ia ingin semua binatang harus mengenal dirinya. Usai dilantik, Banteng langsung memanggil pimpinan burung ‘Keroco’— jenis burung Punai tanah. Ia menugaskan pimpinan Keroco untuk memilih dua anggotanya yang terbaik untuk mengikuti dirinya setiap waktu.
Keroco-keroco tersebut harus memiliki keahlian bercerita dan mampu mempengaruhi binatang yang lainnya melalui kicauan. Sang pemimpin Keroco pun mengutus Keroco Merah dan Keroco Hijau untuk mendampingi Banteng mengeliling hutan belantara.
Keroco merah memiliki keahlian menggambarkan dengan detail apa saja yang dilakukan dan Keroco Hijau punya keahlian menceritakan sesuatu kejadian dengan lengkap dan enak didengar.
Awalnya, kedua Keroco ini bagus melaksanakan tugas. Mereka memuaskan sang Banteng dan para binatang pun semakin mengenal rajanya. Raja puas, pimpinan Keroco pun senang. Apapun yang diminta kedua anak buahnya tersebut, dipenuhi sang pemimpin.
Kondisi ini ternyata jadi aji mumpung bagi kedua Keroco tersebut. Mereka terus ’membusungkan’ dada di hadapan penghuni hutan lainnya begitu juga dengan para Keroco lainnya. Terkadang main perintah melebihi kapasitas pimpinannya. Bila tidak diikuti, mereka selalu mengatakan ini perintah dan permintaan ’Raja Banteng’ maupun pimpinan Keroco.
Selang beberapa waktu, belang kedua Keroco ini mulai tampak. Sang Banteng berang, sejumlah rakyat tak mengenalnya. Usut punya usut, kedua Keroco ini ternyata jarang sekali berkicau lagi. Masing-masing lantas dipanggil raja Banteng dalam waktu berbeda.
Oooh, ternyata, kedua Keroco ini saling menjelekkan satu sama lain. Bukan itu saja, sejumlah nama binatang pun dibawa-bawa. Mereka mengaku para binatang membencinya bila berkicau tentang Banteng. Banteng pun memanggil pimpinan Keroco. Ia berang dan mengancam akan meninggalkan pasukan Keroco. Jelas ini membuat ketar-ketir pimpinan burung Punai Darat tersebut. Sejumlah senior Keroco pun dipanggil.
Rapat akbar para Keroco pun digelar. Pimpinan Keroco meminta pendapat para senior. “Maaf pimpinan, Anda bila kami sampaikan mengenai persoalan kedua Keroco ini, selalu mengatakan ya sudah itu urusan saya. Kedua Anda memberikan fasilitas yang berlebihan kepada mereka. Ketiga, akibatnya mereka dengan mudah menggunakan dan menjual nama Anda bahkan nama Raja Banteng sekalipun untuk menakut-nakuti kami, keempat mereka suka menjelek-jelekan pasukan Keroco lainnya bila tidak mendengarkan kicauannya, dan terakhir mereka memang selama ini sudah tidak pernah berkicau. Kalau Anda mau, ini semua tergantung Anda. Sekian terimakasih,“ tukas Keroco Hitam keras dan tegas.
Rapatpun mentok. Sikap para senior jelas, persoalan semuanya berawal dari sikap pimpinan Keroco yang memberikan fasilitas berlebihan kepada kedua Keroco tersebut bahkan kesalahan yang telah disampaikan tidak pernah ditanggapi dengan tindakan tegas dan tanpa penyelesaian, tinggal sikap pimpinan Keroco, mau tegas atau ’ditampar’ dua kali oleh dua Keroco tersebut.
Rapat lantas bubar seiring bunyi kicauan yang kuat dari burung Hantu. “Awas ada pemburu“. Tak lama kemudian terdengar letupan senapan. Duar, duar. “Oooiii, aku dapat burung Punai nih, warna merah dan hijau,“ teriak seorang wartawan yang ikut berburu. Tamatlah kisah kedua Keroco tersebut dan tidak perlu mendapatkan putusan pimpinannya.
»»  READMORE...