12 Mei, 2009

Panggung Sandiwara

Melabrak prinsip merupakan bagian yang tersulit bagi orang-orang yang memiliki karakter dan jati diri. Namun terkadang kondisi ‘kekinian’ membuat prinsip-prinsip yang sudah tertanam harus dibuat ‘bersahabat’.
Ya, bersahabat dengan peraturan-peraturan, keselamatan, keamanan, desakan kebutuhan hidup dan terkadang pemaksaan halus yang diselubungi dengan kata-kata ‘demi kepentingan’. Kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi, dilayani dan dipuja-puja bahkan harus bertekuk lutut.
Ya, sudahlah. Toh menurut lirik lagu yang didendangkan Ahmad Albar ’dunia ini merupakan panggung sandiwara’. Tempatnya orang-orang untuk berpura-pura dan memainkan perannya untuk meraih tahta, harta dan wanita, walaupun tidak semua orang seperti itu.
Banyak petinggi dan orang-orang yang terhormat di negeri ini menjadi paling rendah dinilainya akibat masuk dalam kubangan lilitan kasus kolusi, korupsi, nepotisme dan perselingkuhan.
Tentu, untuk urusan tahta, harta dan wanita tidak hanya hinggap kepada petinggi-petinggi saja, sekarang ini seorang ‘gembel’ pun bisa memainkan dan ambil peran. Mungkin saja mereka belajar dari kasus-kasus petinggi tersebut. Ya, mulai dari hal-hal kecil seperti ’menjilat’, adu domba, bahkan perlahan-lahan menikam.
Trik-trik ’kacung’ seperti ini sebenarnya mudah sekali kelihatan di permukaan. Ya, tergantung dari kesadaran dan kepekaan kita sendiri. Bila kita termasuk orang-orang yang suka memanfaatkan dan mengambil ataupun mendapatkan keuntungan maka hal-hal ini akan menjadi bagian ’permainan’ yang akan dijalankan dan anda tinggal menyiapkan ’kambing hitamnya’
Namun bila kita peka dan tidak ingin ’tertampar’ serta sadar akan berdampak buruk, maka-maka aksi-aksi ’kacung’ seperti itu segera dihentikan. Tindakan tegas harus diberikan, dieksekusi dan tidak boleh digantung.
Semakin lama dibiarkan akan menjadi parasit ataupun lintah yang terus menerus mengisap hingga kering. Bila sudah begitu, anda akan ditinggalkan, good bye.
Ya, semua tergantung pada kita untuk memilih. Salah ’mengoperasi’ akhirnya juga akan menyulitkan diri sendiri. Terpenting mencari kebenaran tidak harus melihat dan mendengarkan dari satu sisi. Semoga kita menjadi arif untuk memilih yang terbaik.

Tidak ada komentar: