20 Februari, 2009

Kearifan Dalam Perbedaan

Pernah kita berpikir mengapa dilahirkan dengan kulit hitam, rambut keriting, mata sipit? Mengapa kita dilahirkan beda dengan orang-orang di negeri Arab, Eropa, Cina, Jepang, Australia?
Jawaban yang paling mudah, ya karena orangtua kita orang Indonesia, bapak ibu atau satu di antaranya berambut keriting, berkulit hitam, bermata sipit dan lain sebagainya. Sebagian kita ada yang tidak ingin berpusing berlama-lama memikirkan hal tersebut.
Kondisi merupakan harfiah yang sudah ada sejak kita dilahirkan. Bisa kita menolak? Kenyataan yang terjadi, sejak lahir perbedaan tersebut sudah ada. Perbedaan inilah yang memberi warna dan membuat hidup lebih bermakna.
Lantas, bagaimana kalau semua manusia dilahirkan sama? Rambut sama hitam dan keriting atau lurus, mata sipit atau besar dan sebagainya serta semua manusia memiliki keinginan yang sama. Apakah kita bisa menikmati hidup? Saya rasa, hidup ini tentu akan hambar.
Ini kebesaran Illahi, sang maha pencipta dan maha mengetahui. Mahluk hidup di muka ini diciptakannya berbeda-beda tidak ada yang sama, termasuk kembar siam sekalipun.
Lantas apakah perbedaan tersebut harus terus dipertentangkan? Harus terus diperdebatkan? Mengapa tidak lebih baik kita bersikap arif menikmati dan saling menghargai perbedaan tersebut sebagai sebuah anugerah untuk lebih berarti di muka bumi ini?
Tentu, tidak semua perbedaan tersebut harus disatukan untuk bisa bersama. Di sisi lain sikap arif tersebut, kita juga harus tetap berpegang teguh pada prinsip dan aturan yang mengikat seperti hukum agama. Jangan sampai menerima perbedaan lantas melabrak nilai-nilai agama, maupun norma-norma lainnya. Ini juga akan salah.
Silahkan kita berbeda budaya, silahkan kita menikmatinya tetapi tetaplah berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang lebih hakiki serta menghargai hak-hak orang lain yang hidup di sekitar kita.

Tidak ada komentar: