29 Oktober, 2009

Mendalami Pilihan dari Debat Capres dan Media

Kamis malam kemarin, kita bersama melalui layer kaca televisi menyaksikan debat calon presiden RI putaran terakhir. Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla terlihat begitu mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin.
Debat yang dimoderatori Dekan Fisipol Universitas Gajahmada (UGM) Prof Pratikno dinilai lebih baik dibanding debat sebelum-sebelumnya. Ketiga Capres memang terlihat lebih percaya diri dan memaksimalkan kemampuan untuk menjawab, menyanggah bahkan ‘menyentil’ kandidat lainnya.
Pada debat kali ini, kita pun bisa mendengar Megawati menyebut nama SBY. Terdengar jelas Megawati mengucapkan ‘Pak Susilo’. Ya tidak hanya debat, tetapi inilah yang ingin kita saksikan. Ada ketegangan, ada kemajemukan, ada perbedaan namun suasana tetap cair tanpa ‘batas’.
Bila kondisi politik yang terjadi di tanah air seperti yang tergambar dalam debat Capres kemarin, ratusan kali pun pelaksanaan pesta demokrasi di negeri ini akan berjalan dengan aman dan tentram. Bila yang saling bersaing sudah akur-akur saja, tinggal yang dibawah ini baik tim sukses, masyarakat maupun pendukung bagaimana menjaga kondisi kondusif yang sudah terbentuk ini.
Beda pilihan itu sudah lahiriah dan hak masing-masing, terpenting perbedaan tersebut tidaklah membuat kita lantas jontok-jontokan dan saling bermusuhan. Lantas bagaimana perbedaan tersebut bisa menjadi kekayaan untuk saling mengkoreksi dan memperbaiki.
Di Jakarta, debat Capres malam kemarin tersebut menjadi berita utama sejumlah Koran nasional dan lokal ibukota. Media cetak ini tidak segan-segan memasang judul yang dibesarkan dan dihitamkan.
Judul-judul yang disajikan pun berbeda tergantung dari sudut pandang ‘angle’ media itu sendiri. Ini yang menjadi daya tarik sehingga lebih menarik dari debat yang disaksikan di layer kaca.
Kejelian seorang wartawan pun dipertaruhkan dalam meliput acara debat tersebut. Di salah satu media nasional juga memaparkan dengan gamblang apa yang dilakukan Capres-capres tersebut ketika tak tersorot kamera televisi, atau ketika break iklan dan juga sikap capres ketika disanggah maupun dikritik.
Ini tentunya akan memberikan khanasah bagi untuk lebih mendalami siapa capres yang benar-benar layak untuk dipilih 8 Juli mendatang. Ini saatnya kita semua memilih yang terbaik untuk bangsa ini, lima detik untuk lima tahun. Selamat menentukan dan memilih yang terbaik.

Tidak ada komentar: